Kidung Kawitan Warga Sari

Kidung Kawitan Wargasari

Kidung Wargasari ini sering kali digunakan dalam upacara keagamaan di Bali sebagai kidung pembuka (pemendak).

Maknanya secara filosofis adalah untuk mengajak umat/hadirin untuk memusatkan perhatian pada keindahan dan kesucian alam semesta, yang dianggap sebagai manifestasi dari Tuhan.

Dengan menggambarkan keindahan yang sangat detail dan puitis, kidung ini bertujuan untuk menciptakan suasana khidmat, damai, dan penuh rasa syukur sebelum memulai ritual atau persembahyangan.

Ini adalah cara untuk mempersiapkan batin agar lebih peka terhadap kehadiran Ida Hyang Widhi dalam keindahan alam.

Kidung Purwakaning

Purwaka ning angripta rum Ning wana ukir Kahadang labuh Kartika penedenging sari Angayon tangguli ketur Angringring jangga mure

“Sebagai permulaan untuk melukiskan keindahan hutan dan gunung-gunung, yang disinari oleh jatuhnya (cahaya) bintang Kartika (Pleiades), saat mekarnya bunga-bunga sari, membuat bergoyang dan berjatuhan (bunga) tangguli, menggoyangkan leher sambil bergerak (berlari-lari).

Sukania Harja

Sukania harja-winangun Winarna sari Rangrumrum ning puspa Priyaka hingoli tangi Sampuning riris sumar Umunggwing srengganing rejeng

Bait kedua ini melanjutkan deskripsi keindahan alam, menyoroti aroma bunga priyaka yang harum semerbak, terutama setelah hujan. Ini melukiskan kesempurnaan dan kesegaran alam yang baru dibersihkan oleh hujan, dan keharuman yang mencapai puncaknya.

Klik disini Kembali ke halaman kidung lainnya :